Menerbitkan Karya, Mulai dari Mana?
#033: Merayakan terbitnya buku “Ziarah Rupa-rupa Luka dan Cinta” oleh Nadia Bella Mulkillah
Barangkali buku “Ziarah Rupa-rupa Luka dan Cinta” adalah buku keenam yang teman baik saya terbitkan hingga saat ini. Namanya Nadia Bella, ia adalah salah satu teman baik saya yang produktif dalam berkarya. Jujur, ini yang saya kagumkan dari sosoknya, di tengah kesibukannnya menyusun skripsi, ia tetap berhasil menghasilkan sesuatu.
Beberapa minggu sebelumnya, saya sempat berbincang dengannya, berbicara soal menulis dan berujung Nabel (begitu sapaan akrabnya) menceritakan pengalamannya menulis dan menerbitkan buku.
Berdasarkan penuturannya, naskah buku ini telah ia tulis semenjak 2022, baru-baru ini Ia mencoba rampungkannya, tanpa sedikit pun terbersit untuk menerbitkannya sebagai sebuah buku. Gayung bersambut, pada akhirnya buku kumpulan puisi ini terbit juga.
Dari Proses Penulisan ke Penyuntingan dan Penerbitan
Nadia Bella menerbitkan karyanya di suatu penerbit lokal asal Kota Tasikmalaya, bernama Langgam Pustaka. Dari penuturannya, menerbitkan karya tidaklah mudah. Ada proses penyuntingan yang perlu ia lalui, belum lagi mengerjakan revisi yang diberikan di tengah kesibukannya yang padat.
Nabel secara jujur menuturkan untuk karya berbentuk puisi secara isi tidak banyak yang dikritisi penerbit, hanya saja dari segi tata bahasa hingga tata letak sedikit banyak ada peranan penerbit.
Karya berbentuk puisi memang punya kemewahan, toh puisi secara mendasar merupakan jeritan jiwa dan kesunyian penulis, tiap orang bisa beda-beda penafsirannya. Berbeda dengan karya berbentuk prosa, prosesnya penyutingan bisa saja menyentuh tataran isi (content) dari karya yang hendak diterbitkan.
Hal yang saya paling penasaran dari penerbitan sebuah buku adalah besaran royalti. Saya sempat bertanya,”Kira-kira berapa besaran royalti yang bakal kamu terima, Bel?” dan Nabel menjawab, penulis diberikan sekian persen — sambil memberi isyarat angka — dari hasil penjualan bukunya.
Proses menulis buku bukanlah proses yang pendek. Draft karya yang telah dibuat perlu menjalani proses penyuntingan dan revisi. Setelah berhasil direvisi, naskah final akan didaftarkan untuk mendapatkan Nomor ISBN, yang untuk kasus ini memakan waktu lebih dari seminggu.
Proses masa cetak tidak kalah sebentar, dari penuturan Nabel masa percetakan bukunya sempat diundur selama dua bulan karena satu dan lain hal.
Pelajaran yang didapatkan Nabel setelah menerbitkan 6 Buku
Menerbitkan karya, sepengetahuan saya, adalah perkara tidak mudah. Saya sempat menanyakan, jika ada yang hendak menerbitkan karya, kiranya apa yang akan Nabel sarankan? Raut muka Nabel berubah, wajahnya seolah mengerut, barangkali ia mencoba memeras ingatannya untuk memberikan saran dan masukan terbaik, terlebih untuk penanya seperti saya yang beraspirasi untuk menerbitkan karya, suatu saat nanti (semoga).
Berikut beberapa daftar saran yang Ia berikan:
- Memilih penerbit sangat krusial, jangan sampai salah memilih tempat kita menerbitkan buku, baiknya lakukan riset terlebih dahulu, terlebih segmentasi pasar, jenis karya yang sering diterbitkan di penerbit tersebut, dan apa saja yang ditawarkan oleh pihak mereka.
- Menerbitkan buku tidaklah mudah, tidak ada salahnya mencoba mengujikan kemampuan menulis dengan mengirim draft cerita pendek, artikel populer, hingga opini ke media cetak atau digital terlebih dahulu. Dari penuturannya, Nabel tidak langsung menerbitkan buku, ia lumayan rajin mengirimkan draft tulisan ke surat kabar.
- Pemasaran yang baik akan mendukung seberapa banyak buku yang terjual. Meskipun buku yang bagus tidak selalu laku di pasaran, dan buku yang laku di pasaran tidak selalu bermakna buku tersebut bermutu baik ,tetapi saat menerbitkan buku, kita perlu mempertimbangkan pragmatisme. Penulis perlu memikirkan strategi pemasaran, dan segmentasi pembaca yang hendak kita jual. Ini juga alasan mengapa memilih penerbit yang sesuai dengan kita bisa sangat menentukkan keberhasilan karya di pasaran. Catatannya adalah, tidak semua penerbit membantu proses pemasaran ini.
- Jangan takut dengan penolakan. Naskah yang coba dikirim ke surat kabar tidak selalu berakhir diterbitkan. Namun, setidaknya kita bisa mendapatkan umpan balik dari proses ini dan mencoba memperbaiki aspek-aspek lain dari suatu karya yang baik, bisa saja tata bahasa yang sesuai, gaya penulisan, kemenarikan tema, dst.
Saya amat senang dengan terbitnya buku Ziarah Rupa-rupa Luka dan Cinta dan berbangga hati dengan pencapaian Nabel, jika kamu tertarik untuk membeli karya nabel, kamu bisa ketuk DM beliau untuk pemesanan edisi cetaknya instagram.com/nanadiabella, atau membeli versi digital di google play. Semoga kamu tertarik untuk mulai dan terus berkarya juga, ya! :)
Berikan komentar 💬, tepukan 👏🏻 jika merasa tulisan ini beresonansi denganmu. Terima kasih. 🙏🏻